International Webinar: Understanding Psychological Perspectives Of Disaster Preparedness

#Events & projects update
calendar_today
31 May 2022
person
Wisnu Pudji Pawestri
Description

Webinar yang berlangsung pada tanggal 20 Mei 2022 ini adalah bagian dari PREPARED Project yang diinisiasi oleh Universitas Gadjah Mada berkolaborasi dengan Tsunami Disaster Mitigation Research Centre (TDMRC) dan Poltekkes Mamuju, dengan dukungan dari Pemerintah Australia. 

 

PREPARED Project merupakan proyek yang didanai oleh Pemerintah Australia melalui Skema Alumni Grant Scheme (AGS) dan dikelola oleh Australia Awards Indonesia. Proyek ini diketuai oleh Pradytia Pertiwi, Ph.D (The University of Sydney, PhD in Behavioural and Social Sciences in Health Alumni).

 

PREPARED Project menggabungkan penelitian dan kegiatan intervensi masyarakat (action research) untuk mengatasi kurangnya upaya bersama dalam memahami dan menangani kesiapsiagaan psikologis terhadap bencana dari komunitas yang berisiko dan terkena bencana. Proyek ini membedah faktor-faktor yang terkait dengan tingkat kesiapsiagaan psikologis dari tiga komunitas lokal dengan tingkat pengalaman hidup yang berbeda terhadap bencana, dan keterpaparan terhadap program kesiapsiagaan bencana. Bukti-bukti yang terkumpul akan digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan alat ukur kesiapsiagaan psikologis dalam konteks Indonesia, serta untuk membuat rencana bantuan dan pendampingan psikologis jika terjadi peristiwa bencana. Proyek ini juga akan menciptakan mekanisme “peer-to-peer” untuk membangun keterkaitan antara tim tanggap bencana lokal yang akan dilatih untuk memfasilitasi masyarakat di masing-masing wilayah dalam melakukan pre-planning dan mengakses bantuan serta untuk membantu dari aspek psikologis dalam peristiwa bencana.

 

Tujuan dari webinar ini adalah untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang aspek psikologis kesiapsiagaan bencana, serta menyebarluaskan temuan awal dari tinjauan systematic literature study tentang faktor psikologis yang mempengaruhi keputusan individu untuk bersiap menghadapi bencana dan kedaruratan dalam konteks Indonesia.

 

Sedangkan output yang diharapkan dari webinar ini adalah peningkatan pengetahuan tentang kesiapsiagaan psikologis terhadap bencana dan kesehatan pandemi bagi peserta webinar, serta untuk mendapatkan masukan publik terhadap temuan penelitian awal.

 

Webinar yang dihadiri sekitar 143 peserta ini dibuka dengan pemutaran video tentang PREPARED Project dan dilanjutkan dengan sambutan oleh Rahmat Hidayat, PhD (Dekan Fakultas Psikologi UGM), Prof. Syamsidik (Tsunami Disaster Mitigation Research Center, Universitas Syiah Kuala), dan Zaki Irwan (Wakil Direktur Universitas Mamuju).

 

Sesi pertama adalah pemaparan materi dari pembicara utama yaitu Prof. Douglas Paton dari Charles Darwin University, Australia dengan topik “Understanding Psychological Perspective of Disaster Preparedness” yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

 

Sesi kedua adalah diseminasi hasil riset  “Systematic Literature Review on Psychological Preparedness to Disaster in Indonesia” oleh Pradytia Pertiwi, PhD (PREPARED Project Leader) yang kemudian diulas oleh tiga diskusan yaitu, Rahmat Hidayat, PhD (Dekan Fakultas Psikologi UGM), Listyati S. Palupi, M.DevPract (Dosen Fakultas Psikologi UNAIR) dan Mizan B. F. Bisri, PhD. (Asisten Profesor Kobe University dan Principal CARI!).

 

Pada webinar ini, Mizan B. F. Bisri, PhD selaku Principal CARI! dan peneliti kajian memberikan ulasan tentang bagaimana kesiapsiagaan psikologis dapat berkontribusi dalam kesiapsiagaan bencana secara umum, serta bagaimana aspek-aspek psikologis dapat dipertimbangkan dan diintegrasikan ke dalam riset dan praktik di Indonesia.

 

Beberapa catatan penting dalam webinar ini terangkum sebagai berikut:

 

Prof. Douglas Paton

Para akademisi ataupun pegiat kebencanaan perlu mengambil peran di tengah masyarakat untuk memberikan peningkatan kapasitas terhadap pengetahuan bencana serta antisipasi secara berkesinambungan. Meskipun komunitas masyarakat tidak memiliki pengalaman bencana secara langsung, tetapi setidaknya mereka perlu memiliki kewaspadaan, mengetahui apa yang harus dilakukan dalam waktu jangka pendek dan jangka panjang, serta memikirkan pemulihan untuk membangun kembali dengan lebih baik. Kebanyakan dari kita memperkenalkan kebencanaan hanya pada komunitas yang sering terkena dampak bencana, tetapi tidak pada komunitas yang tidak terkena bencana. Maka dari itu perlu diperluas di pelbagai lini masyarakat yang memiliki latar belakang budaya beragam. Aspek yang perlu diperhatikan adalah kesiapsiagaan struktural untuk memastikan seberapa lama mereka bisa tetap tinggal di lingkungannya saat setelah bencana terjadi (pasca bencana) sehingga memungkinkan adanya dukungan sosial dari pihak lain dan dukungan pemulihan.

 

Penelitian yang pernah dilakukan oleh Prof. Douglas di Auckland (2006) menunjukkan bahwa 16% masyarakat memiliki emergency kit, namun hanya 4% dari mereka yang memiliki pengetahuan terhadap bencana. Prof Douglas menilai bahwa terdapat beberapa faktor yang membuat masyarakat tidak tertarik untuk memikirkan kesiapsiagaan bencana baik dalam waktu jangka pendek maupun panjang, yaitu:

  1. Unrealistic optimism
  2. Denial/anxiety/fatalism – masyarakat cenderung tidak ingin membicarakan persoalan bencana
  3. Return period
  4. Risk compensation
  5. Overconfidence
  6. Cost benefit decisions (masyarakat melihat antisipasi bencana sebagai biaya tambahan yang harus dikeluarkan, bukan manfaat jangka panjang)
  7. Beliefs (keyakinan masyarakat terhadap alam/lingkungan. mereka menganggap alam bisa dikendalikan karena alam bersifat melayani maka tidak ada bentuk tanggung jawab dari manusia)

 

Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan adalah dengan mengajak akademisi, policy makers, dan disaster and humanitarian organisations untuk memahami bagaimana masyarakat menginterpretasikan risiko mereka dan bagaimana mereka mengambil keputusan atas risiko tersebut melalui perspektif teori Community Engagement yang diterapkan di berbagai konteks budaya. Ke depannya, para akademisi dan policy makers perlu menggabungkan teori yang ada dengan melihat latar belakang kepercayaan lokal masyarakat (local wisdom dan belief system) yang berlaku dan juga life experience.

 

Hasil riset dari Prepared Project

Temuan:

1. Pemahaman dan pengukuran kesiapan psikologis:

  • Adanya keterbatasan penelitian di Indonesia tentang kesiapsiagaan psikologis
  • Belum ada definisi kesiapsiagaan psikologis dalam konteks indonesia
  • Belum ada ukuran standar kesiapan psikologis dalam konteks Indonesia

 

2. Konstruksi kesiapan psikologis

Konstruksi kesiapan psikologis dibagi menjadi tiga, yaitu faktor dalam individu, faktor antar individu, dan faktor individu-institusi. Pada faktor dalam individu, nilai-nilai religiusitas sangat memengaruhi respon terhadap penanganan bencana (termasuk aspek psikologis). Sedangkan pada faktor antar individu, wacana inklusivitas sangat berpengaruh terhadap respon mereka pada konteks kesiapsiagaan bencana; dan dalam faktor individu-institusi, menunjukkan bahwa peran dan dukungan lembaga serta tokoh masyarakat sangat penting. 

 

3. Jenis kesiapan psikologis

Dua jenis kesiapsiagaan psikologis, yaitu Kesiapsiagaan bencana diri dan agensi/sukarelawan (pemberdayaan, rasa kebersamaan, dukungan kelembagaan). Namun hubungan antara dua jenis variabel diatas belum diselidiki lebih lanjut

 

Way to Forward:

  1. Pengembangan alat kesiapsiagaan psikologis terhadap bencana yang ditopang oleh hasil riset
  2. Tinjauan ahli dan uji coba alat di tiga wilayah; Kabupaten Sleman, Kota Banda Aceh, dan Kota Mamuju untuk mengetahui validitas dan reliabilitas alat


 

Tanggapan dari diskusan

  1. Menggali unsur-unsur belief dan perception menjadi penting dalam hal disaster preparedness
  2. Memasukkan keyword yang lebih beragam dari kajian multidisipliner akan membuat riset ini juga menjadi beragam dari segi System Literature Review (misal, memasukkan keyword ‘representasi sosial’, ‘local wisdom’, ‘belief system’, ‘perception’.)
  3. Perlu adanya peran kelembagaan atau adanya asosiasi multidisciplines scholars

 

Tantangan

  1. Integrasi budaya dalam kesiapan psikologi terbatas
  2. Kurangnya alat ukur kesiapan psikologis yang dapat diterapkan dalam semua konteks budaya
  3. Kurangnya definisi komprehensif tentang kesiapan psikologis


-----

Keterangan Tambahan:

Isi tulisan baik sudut pandang yang dipilih dan gagasan yang disertakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Tulisan ini bukan ditujukan untuk menyampaikan pandangan resmi dari CARI!