Bias Kognitif Dalam Persepsi Risiko

#Capacity development
calendar_today
11 April 2022
person
Fega Ayu Pangestika
Description

Gelombang kasus COVID-19 yang terjadi sejak 2020 lalu telah menimbulkan banyak misinformasi atau hoaks yang beredar di masyarakat. Hoaks yang beredar sangat beragam. Mulai dari narasi bahwa COVID-19 adalah senjata biologis pemusnah massal, vaksin yang disusupi chip untuk agenda konspirasi, dan lain sebagainya. Tidak sedikit masyarakat yang mempercayai berita hoaks tersebut dan berakibat pada perilaku denial atau menganggap COVID-19 itu tidak ada dan hanya rekayasa semata. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?

 

Manusia dan persepsi risiko

Ketika dihadapkan pada sebuah risiko – baik risiko bencana, risiko Kesehatan, risiko kecelakaan, dan risiko lainnya yang mengancam kehidupan – seorang individu akan merespon risiko tersebut dengan dua cara, yakni melalui analisis logis dan heuristik afek (Slovic & Peters, 2006). Hal inilah yang disebut dengan persepsi risiko.

 

Persepsi risiko sendiri diartikan sebagai penilaian subjektif individu atas suatu risiko dari sebuah situasi, kejadian, aktivitas, atau teknologi (Slovic, 2010). Para ilmuwan menggunakan analisis matematis yang rasional dalam menganalisis risiko, tentunya dengan berdasarkan pada kaidah-kaidah ilmiah. Bagi orang awam, analisis risiko secara logis dan matematis terlalu rumit. Sehingga, analisis risiko yang dilakukan dengan perasaan dan intuisi yang seringkali dipengaruhi oleh keyakinan pribadi, pengetahuan dan pengalaman di masa lalu, juga kepercayaan terhadap komunitas dan otoritas (Aiyuda & Koentjoro, 2016; Wusana & Hidayat, 2017).

 

Persepsi risiko dan heuristik

Herbert Simon, seorang peneliti dalam bidang psikologi kognitif menjelaskan bahwa manusia adalah “bounded rational agent” (Cleary, 2009). Artinya, kapasitas pikiran manusia dalam menganalisis risiko yang kompleks, pada hakikatnya sangat terbatas. Keterbatasan itulah yang membuat manusia pada akhirnya mengandalkan heuristik dalam menganalisis permasalahan yang kompleks. Heuristik sendiri diartikan sebagai mental shortcut atau jalan pintas kognitif yang didasari pada perilaku yang telah dipelajari sebelumnya (Lenat, 1982). 

 

Terdapat alasan lebih rinci mengapa individu terkadang menggunakan heuristik untuk menilai risiko, yakni:

  1. Attribute substitution (Kahneman & Frederick, 2002), ialah saat individu menggunakan pertanyaan yang lebih sederhana untuk menjawab pertanyaan yang sulit dan kompleks. Ketika seorang individu bertanya-tanya tentang mengapa sebuah bencana terjadi, akan lebih mudah bagi mereka untuk mendapatkan jawaban karena “takdir Tuhan” daripada jawaban ilmiah seperti misalnya karena perubahan iklim.
  2. Effort reduction (Shah & Oppenheimer, 2008), ialah saat individu menggunakan heuristik sebagai bentuk kemalasan kognitif untuk mengurangi kapasitas pikiran dalam mengambil keputusan. Setiap harinya individu membuat keputusan dari hal yang paling sederhana (misal memilih akan makan apa hari ini), hingga yang paling rumit (misal apakah harus memakai masker untuk berbelanja ke pasar). Mengingat kapasitas otak manusia yang terbatas, aktivitas membuat keputusan bagi sebagian individu terasa melelahkan. Pada akhirnya, individu akan membuat keputusan yang baginya lebih mudah untuk dilakukan.
  3. Fast and frugal (Marewski & Gigerenzer, 2012), yakni dalam konteks tertentu, heuristik dapat membantu pengambilan keputusan yang benar dan tepat meskipun dengan informasi yang minim.

 

Sayangnya, dalam menganalisis permasalahan yang kompleks tidak bisa selalu mengandalkan heuristik. Hal tersebut dikarenakan heuristik dapat menyebabkan kekeliruan interpretasi akan suatu risiko atau bahaya. Stereotip, prasangka, misinterpretasi, miskalkulasi, dan simplifikasi risiko adalah hal yang kerap terjadi saat individu mengandalkan heuristik (Bigler & Clark, 2014).

 

Macam-macam heuristik

Terdapat berbagai macam bentuk heuristik yang mungkin sebagian individu tidak menyadari bahwa perilakunya tergolong dalam heuristik. Beberapa contoh di antaranya adalah:

  1. Availability heuristic, yakni ketika individu menilai suatu informasi secara berlebihan, yang didasarkan pada informasi yang paling baru didapatkan. Sebagai contoh adalah peristiwa kecelakaan pesawat yang diberitakan secara masif dan tragis di berbagai media sehingga membuat individu mempersepsikan risiko kecelakaan pesawat lebih besar dan menyeramkan daripada risiko kecelakaan kendaraan bermotor.
  2. Confirmation bias, yakni ketika individu mendasari asumsi risiko pada informasi yang mendukung keyakinan pribadi dan mengabaikan informasi yang berlawanan dengan keyakinan pribadinya, atau biasa disebut dengan cherry-picking. Sebagai contoh, seorang individu meyakini bahwa yang berisiko meninggal karena COVID-19 adalah orang tua yang memiliki penyakit komorbid saja. Padahal, ketika melihat data statistik yang ada, individu dari berbagai usia juga memiliki risiko meninggal karena COVID-19.
  3. Bandwagon effect, yakni ketika individu melakukan sikap atau perilaku tertentu yang didasari karena kebanyakan orang melakukannya, yang mana belum tentu perilaku tersebut rasional. Panic buying saat awal gelombang kasus COVID-19 terjadi adalah salah satu contoh dari perilaku dari bandwagon effect yang dapat menyebabkan kelangkaan barang dan orang lain kesulitan mengakses barang tersebut.

 

Bagaimana agar tidak terjebak dalam perangkap heuristik?

Dalam menilai suatu risiko, manusia memang tidak dapat terlepas dari penggunaan heuristik sebagai jalan pintas kognitif. Akan tetapi, terdapat risiko yang tidak bisa selalu mengandalkan heuristik dalam penilaiannya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali apa saja bias kognitif yang mungkin terjadi ketika mempersepsikan suatu risiko. Selain itu, penting sekali untuk dapat melihat suatu isu dari berbagai sudut pandang keilmuan maupun tokoh seperti akademisi, pemerintah, maupun tokoh masyarakat. Terakhir, lengkapi pengetahuanmu dengan membaca literatur dan produk riset yang kredibel dan reliabel tentang risiko dan kebencanaan yang dapat kamu akses melalui portal utama CARI!.

-----

Daftar Pustaka

  1. Aiyuda, N., Koentjoro. 2016. Hubungan antara persepsi risiko dan kepercayaan masyarakat terdampak terhadap otoritas dalam upaya mitigasi dampak kabut asap Riau. Gadjah Mada Journal of Psychology, 2(2), 101-112. ISSN: 2407-7798.
  2. Bigler, R. S., Clark, C. 2014. The inherence heuristic: a key theoretical addition to understanding social stereotyping and prejudice. Behavioral and Brain Sciences, 37(5), 483-484. https://doi.org/10.1017/S0140525X1300366X
  3. Cleary, S. 2009. Cognitive Constraints and Behavioral Biases. In Kunreuther, H., Useem, M. (Ed.). Learning from Catastrophes: Strategies for Reaction and Response. New Jersey: Pearson Education.
  4. Lenat, D. B. 1982. The nature of heuristics. Artificial Intelligence, 19(2), 189-249. https://doi.org/10.1016/0004-3702(82)90036-4
  5. Marewski, J. N., Gigerenzer, G. 2012. Heuristic decision making in medicine. Dialogues in Clinical Neuroscience, 14(1), 77-89. https://doi.org/10.31887/DCNS.2012.14.1/jmarewski
  6. Shah, A. K., Oppenheimer, D. M. 2008. Heuristics made easy: an effort-reduction framework. Psychological Bulletin, 134(2), 207–222. https://doi.org/10.1037/0033-2909.134.2.207
  7. Slovic, P. 2010. The Psychology of Risk. Saúde e Sociedade, 19, 731-747.
  8. Slovic, P., & Peters, E. 2006. Risk Perception and Affect. Current Direction in Psychological Science, 15(6), 322-325. https://doi.org/10.1111/j.1467-8721.2006.00461.x
  9. Wusana, S. W., Hidayat, R. 2017. Peran kepercayaan sosial dan sentralitas jaringan terhadap persepsi resiko bencana alam. Jurnal Ilmu Perilaku, 1(1), 1-10. ISSN: 2581-0421.
  10. https://covid19.go.id/p/hoax-buster

-----

Keterangan Tambahan:

Isi tulisan baik sudut pandang yang dipilih dan gagasan yang disertakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Tulisan ini bukan ditujukan untuk menyampaikan pandangan resmi dari CARI!