Perempuan Dan Upaya Pengurangan Risiko Bencana

#Gender
calendar_today
26 May 2022
person
Wisnu Pudji Pawestri
Description

Fakta bahwa angka harapan hidup perempuan akibat bencana secara kuantitatif lebih rendah daripada laki-laki cenderung menjadi temuan tetap. Beberapa di antaranya adalah temuan Neuyer dan Plumper (2007) melalui meta-analisis terhadap 4.605 kasus bencana di 141 negara sejak tahun 1981-2002 dan Fothergill (1998) melalui review terhadap 100 studi tentang bencana yang menyimpulkan bahwa memang lebih banyak perempuan yang menjadi korban bencana, khususnya perempuan di negara-negara berkembang (Juran, 2012).

 

UNDRR (2002) menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan dalam bencana dan mereka yang paling terkena dampak. Enarson (2012) mengidentifikasi poin-poin berikut sebagai alasan tingginya kerentanan perempuan dalam bencana:

  1. Analisis gender belum masuk ke dalam proses perencanaan penanggulangan bencana;
  2. Belum melembaganya data dan informasi terpilah menurut jenis kelamin yang berkaitan dengan kondisi demografis, sosial ekonomi, dan jumlah penduduk rentan bencana;
  3. Masih kurangnya perhatian terhadap kebutuhan spesifik perempuan dalam penanggulangan bencana;
  4. Perempuan memiliki lebih sedikit akses ke sumber daya;
  5. Perempuan jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan aktivitas publik;
  6. Peran serta dan partisipasi perempuan belum diakui secara formal karena konstruk budaya patriarki mendudukkan perempuan dalam posisi yang pasif

 

Rendahnya tingkat resiliensi perempuan dalam menghadapi situasi bencana salah satunya merupakan konsekuensi dari sistem patriarki yang membelenggu dan mengesampingkan peran perempuan sebagai agensi yang juga punya daya untuk melawan bahaya yang mengancam. Buktinya, terdapat beberapa capaian penting yang melihat keberhasilan  pelibatan perempuan dalam manajemen kebencanaan. Salah satunya terlihat dari studi yang dilakukan Handayani (2015) tentang pembentukan jaringan kelompok perempuan di Desa Panti, Jember yang terdiri dari kelompok Dasa Wisma/PKK, kelompok arisan, kelompok muslimat tri wulan, dan muslimat mingguan. Pada fase tanggap darurat, kelompok ini memiliki peran yang cukup besar, salah satunya dalam hal penyelenggaraan dapur umum. Tak hanya itu, kelompok perempuan ini juga menggalang dana untuk korban bencana, melakukan pendampingan trauma (trauma healing), mengakomodir kebutuhan perempuan dan anak di lokasi pengungsian.

 

Di sisi lain, perempuan sejatinya sangat terkait dengan lingkungan dan pengelolaan lingkungan. Hal ini erat hubungannya dengan relasi dasar perempuan dengan alam. Kedekatan ini menyebabkan perempuan berkelompok dengan perempuan lainnya untuk menyelamatkan alam sekitar mereka dari kerusakan dan memikirkan cara-cara untuk menanggulangi akibat dari kerusakan alam. Contohnya seperti yang dilakukan oleh kelompok perempuan di Burkina Faso, sebuah desa di Afrika yang menderita kekeringan. Mereka mengumpulkan perempuan satu desa untuk bersama-sama menggali tanah sambil bernyanyi dan bersenda gurau selama berbulan-bulan untuk menghasilkan kubangan, sementara suami mereka bermalas-malasan di rumah dan menganggap remeh pekerjaan tersebut. Saat musim hujan turun, ternyata kubangan itu berguna karena dapat menampung air hujan meskipun tidak dalam volume yang besar (Astuti, 2012).

 

Oleh karena itu, meskipun perempuan memiliki risiko yang lebih besar daripada laki-laki dalam bencana, justru perempuanlah yang memungkinkan masyarakat untuk mengatasi bencana karena peran sosial mereka sangat penting dalam tata kelola penanggulangan bencana (Enarson, 2012; Khatun, 2003). Perempuan memainkan peran penting di saat bencana, karena selain tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai care giver dalam keluarga, mereka juga sering kali terlibat kegiatan sosial seperti membantu di dapur umum dan pos kesehatan. Dalam keadaan bencana, peran dan beban perempuan justru bertambah. Perempuan bukan saja sebagai menjadi objek yang harus dilindungi, tetapi juga menjadi subjek yang berperan aktif sebagai agent of change. Oleh karena itu, perspektif gender harus diintegrasikan ke dalam semua kebijakan dan tindakan pengurangan bencana untuk mengurangi kerentanan perempuan dalam bencana. Sehingga laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam hal peningkatan kapasitas. 

 

-----

Daftar Pustaka

  1. Asteria, D. (2016). Optimalisasi komunikasi bencana di media massa sebagai pendukung manajemen bencana. Jurnal Komunikasi. 1, 1-11.
  2. Enarson, E. (2012). Women confronting natural disaster: From vulnerability to resilience. London: Lynne Rienner Publishers
  3. Fothergill, A. (1999). Women’s Roles in a Disaster. Applied Behavioral Science Review
  4. Handayani, B.L. (2015). Jaringan kelompok perempuan dalam manajemen bencana di desa Kemiri, Panti, Jember. Jurnal Entitas Sosiologi. 2(1), 47-66.
  5. Inter-agency Secretariat for the International Strategy for Disaster Reduction (2002), Women, Disaster Reduction and Sustainable Development, UN/ISDR, Geneva.
  6. Juran, L. (2012). The gendered nature of disasters: Women survivors in post-tsunami Tamil Nadu. Indian Journal of Gender Studies. 19 (1), 1-29. DOI: 10.1177/097152151101900101.
  7. Khatun, H. (2003), “Livelihood strategies in disaster risk reduction in Bangladesh”, in Sahni, P. and Ariyabandu, M.M. (Eds), Disaster Risk Reduction in South Asia, Prentice-Hall of India Private Limited, New Delhi
  8. Neumayer, E., & Plümper, T. (2007). The Gendered Nature of Natural Disasters: The Impact 
  9. of Catastrophic Events on the Gender Gap in Life Expectancy, 1981–2002. Annals of the Association of American Geographers

-----

Keterangan Tambahan:

Isi tulisan baik sudut pandang yang dipilih dan gagasan yang disertakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Tulisan ini bukan ditujukan untuk menyampaikan pandangan resmi dari CARI!