Artikel

Latest News

REPDEMAN : FILM DOKUMENTER MERAWAT INGATAN BENCANA PURBA - Juara 1

 

Tak jarang sebuah film mengambil cerita dari kejadian nyata yang dialami seseorang atau suatu daerah. Salah satunya adalah film dokumenter yang diproduksi oleh WatchdocWatchdoc bersama dengan peneliti, praktisi dan pekerja kemanusiaan yang juga berkecimpung dalam peristiwa gempabumi dan tsunami di Mentawai tahun 2010 lalu. Seperti apa tuh filmnya?

 

Film ini mengisahkan kronologis kejadian gempabumi dan tsunami saat itu. Saat itu yang dipahami masyarakat adalah tsunami biasanya datang 30 menit setelah gempa besar terjadi. Gempabumi tersebut berpusat di laut dengan kedalaman tertentu. Namun, pada Kepulauan Mentawai situasinya berbeda, setelah gempa besar terjadi, air laut tidak tampak surut. Namun, tsunami tiba-tiba saja datang setelah sirine potensi tsunami berhenti.

 

Film ini, berusaha mempertemukan masa kini dengan masa lalu. Film ini juga menceritakan bahwa gempabumi dan tsunami merupakan fenomena yang pernah juga terjadi di Kepulauan Mentawai pada jaman dahulu.

 

Ada cerita yang diturunkan dari nenek moyang jika katak dan hewan tanah tidak (sisoibilago) berbunyi, akan terjadi gempa bumi. Kita harus tetap tenang dan tidak boleh panik namun harus segera pergi ke tempat yang lebih aman”, ujar Kepala Suku Dusun Ugai.

Menurut Kepala Suku tersebut, cerita inilah yang harus tetap kita ingat dan diturunkan ke anak cucu agar mereka lebih peka dan siaga terhadap tanda-tanda gempabumi yang berpotensi tsunami ataupun tidak. Film ini juga menampilkan bagaimana masyarakat Mentawai bertahan hidup saat ini.

Mereka masih mengingat apa yang dialaminya saat itu. Mereka menghadapi rasa trauma, sedih kehilangan orang yang dicintai, dan perjuangan untuk bangkit secara ekonomi setelah semua harta bendanya tersapu oleh ombak setinggi 12 meter saat itu.

Beberapa penduduk ada yang mulai pindah dari Hunian Sementara (Huntara) yang dibangun oleh pemerintah atau Lembaga Donor ke Hunian Tetap (Huntap) yang letak daratannya lebih tinggi. Namun, di huntap ini mereka kesulitan untuk mencari nafkah, harga sandang dan pangan lebih mahal karena lokasi Huntap yang tidak strategis. Mereka juga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Alhasil, ada beberapa penduduk yang masih suka kembali ke desa dimana mereka tinggal dulu saat hendak mencari ikan. Mereka akan kembali ke Huntap saat hari libur untuk beristirahat ataupun beribadah. Di huntap mereka pun kesulitan mendapatkan akses ke fasilitas umum, seperti Puskesmas dan Sekolah.

Nah, dari situasi ini lah maka film dokumenter ini diberikan sebuah judul ‘Repdeman’.

Repdeman merupakan bahasa Mentawai, dari kata dasar ‘repdep’ yang artinya adalah ingat. Jadi Repdemen adalah ingatan, kenangan, sesuatu yang membuat kita tidak lupa tentang segalanya terjadi.

Film Repdeman adalah sebuah pengingat bagi kita semua bahwa pengetahuan atau cerita masa lalu dari nenek moyang itu penting untuk dijaga dan dipelihara. Dengan adanya film Repdeman inilah, kita bisa belajar dan terus mengingat apa yang telah terjadi sehingga menjadi pelajaran bagi semua. (SS)

 

Sumber: siagabencana.com

 

Tulis Komentar

Comments (6)

  • Rully Primangesta2021-08-23 08:47:07 Balas

    Test komentar pertama

    • Rully Primangesta2021-08-23 08:47:58 Balas

      Balasan komentar pertama

      • Rully Primangesta2021-08-23 08:48:20

        jawaban balasan komentar pertama

      • Rully Primangesta2021-08-23 08:48:40

        terima kasih telah mengingatkan

  • Rully Primangesta2021-08-23 08:49:00 Balas

    Test komentar ke dua

    • Rully Primangesta2021-08-23 08:49:16 Balas

      coba balas komentar ke dua

Tulis Komentar